Mama lah malaikat yang diberi kepercayaan dari Sang Maha Segalanya untuk menjagaku. Mama selalu menjaga kandungan saat ragaku masih berwujud janin dan bersemayam di dalam rahim. Bahkan, saat aku terlahir ke dunia dan hanya mampu terbaring dan menangis, mama tidak keberatan merawat bahkan rela terjaga hingga pagi buta demi memastikan kenyamananku.
Ma, apakah mama masih ingat saat pertama kali mengantarkanku ke gerbang taman kanak-kanak? Saat itu aku merengek manja dan tidak mau terlepas dari genggaman mama.Itulah salah satu kenangan dari banyaknya memori manis saat bersama mama yang masih lekat di lingkar kepala. Sewaktu aku kecil, aku enggan berpisah barang sedetik pun dari mama. Aku merasa nyaman dan aman di dekatmu.
Hatiku pun demikian, selalu hangat dan meremang tiap kali ada kehadiran mama. Ya, mama selalu berhasil menjadi oase di tengah kegundahan dan kegamangan yang aku rasa.Hingga aku beranjak dewasa seperti sekarang, aku tidak pernah kekurangan limpahan kasih sayang. Dari mama aku belajar apa arti mencintai dan menyayangi tanpa syarat.Saat papa sibuk bekerja di luar kota, mama lah yang selalu ada dan sedia menjagaku dan adik-adik di rumah. Mama selalu memberikan perlindungan dan mencukupi segala yang kami butuhkan. Bahkan, saat mama sibuk dengan urusan pekerjaan, kebutuhanku dan saudaraku tidak pernah terabaikan. Masih ‘kah mama ingat ketika harus bangun di pagi buta setiap harinya?Ya, dari mama aku belajar banyak hal. Pengorbanan serta penerimaan yang juga sepaket dengan kasih sayang yang tidak pernah ada habisnya.Hubungan kita memang tidak selamanya hangat, ma. Terkadang aku dan mama saling mendiamkan atau malah kita terlibat pertengkaran. Aku tidak setuju terhadap pola pikir mama yang ku anggap terlalu kuno. Begitu juga mama yang tidak bisa menerima pendapatku karena dianggap bertentangan.Aku tahu bahwa sikapku secara tak sengaja telah menggoreskan luka di hati mama. Aku minta maaf ma, itu semua karena terkadang aku lelah mengikuti aturan yang mama buat. Iya aku tahu aturan itu memang demi kebaikanku. Hanya saja aku ingin menapaki jalanku dengan caraku sendiri.Sekali lagi, maafkan aku ya ma, jika aku pernah membangkang dan membuat hati mama sedikit berlubang.
Ma, apakah mama masih ingat saat pertama kali mengantarkanku ke gerbang taman kanak-kanak? Saat itu aku merengek manja dan tidak mau terlepas dari genggaman mama.Itulah salah satu kenangan dari banyaknya memori manis saat bersama mama yang masih lekat di lingkar kepala. Sewaktu aku kecil, aku enggan berpisah barang sedetik pun dari mama. Aku merasa nyaman dan aman di dekatmu.
Hatiku pun demikian, selalu hangat dan meremang tiap kali ada kehadiran mama. Ya, mama selalu berhasil menjadi oase di tengah kegundahan dan kegamangan yang aku rasa.Hingga aku beranjak dewasa seperti sekarang, aku tidak pernah kekurangan limpahan kasih sayang. Dari mama aku belajar apa arti mencintai dan menyayangi tanpa syarat.Saat papa sibuk bekerja di luar kota, mama lah yang selalu ada dan sedia menjagaku dan adik-adik di rumah. Mama selalu memberikan perlindungan dan mencukupi segala yang kami butuhkan. Bahkan, saat mama sibuk dengan urusan pekerjaan, kebutuhanku dan saudaraku tidak pernah terabaikan. Masih ‘kah mama ingat ketika harus bangun di pagi buta setiap harinya?Ya, dari mama aku belajar banyak hal. Pengorbanan serta penerimaan yang juga sepaket dengan kasih sayang yang tidak pernah ada habisnya.Hubungan kita memang tidak selamanya hangat, ma. Terkadang aku dan mama saling mendiamkan atau malah kita terlibat pertengkaran. Aku tidak setuju terhadap pola pikir mama yang ku anggap terlalu kuno. Begitu juga mama yang tidak bisa menerima pendapatku karena dianggap bertentangan.Aku tahu bahwa sikapku secara tak sengaja telah menggoreskan luka di hati mama. Aku minta maaf ma, itu semua karena terkadang aku lelah mengikuti aturan yang mama buat. Iya aku tahu aturan itu memang demi kebaikanku. Hanya saja aku ingin menapaki jalanku dengan caraku sendiri.Sekali lagi, maafkan aku ya ma, jika aku pernah membangkang dan membuat hati mama sedikit berlubang.
No comments:
Post a Comment