Tak ku ingat
kapan tepatnya ketika kau meluluhlantakkan pondasi masa depan yang kita
susun berdua. Yang kuingat hanya mendadak hatiku tak mampu merasa. Tak
kutemukan pendar-pendar cinta dan sayang yang selalu ada tiap kali kita
bersua.
Tak ada pula rasa hangat yang diam-diam menyusup masuk ketika mata kita saling berjumpa.
Setelah beberapa detik berusaha mencerapi segalanya, barulah rasa kecewa, sedih, marah berduyun-duyun masuk tanpa permisi. Mereka menginjak-injak kenangan manis yang pernah ada, merobohkan menara kepercayaan yang selama ini menjadi kebanggaan, dan pada akhirnya memusnahkan harapan yang terjalin rapi bersama dengan impian.
Tak ada pula rasa hangat yang diam-diam menyusup masuk ketika mata kita saling berjumpa.
Setelah beberapa detik berusaha mencerapi segalanya, barulah rasa kecewa, sedih, marah berduyun-duyun masuk tanpa permisi. Mereka menginjak-injak kenangan manis yang pernah ada, merobohkan menara kepercayaan yang selama ini menjadi kebanggaan, dan pada akhirnya memusnahkan harapan yang terjalin rapi bersama dengan impian.
Sedetik kemudian tangisku pecah
di udara. Tentu pada saat itu kau sudah tak ada di sana, aku mengusirmu pergi.
Aku tak sudi menangis di depanmu. Tak sudi menunjukkan wujudku yang sedang
babak belur penuh luka di hadapanmu. Aku tak butuh dikasihani, aku bersikeras
bahwa aku bisa sendiri.
Ah, ya,
sekarang aku ingat, saat itu..Ketika kau mengakui bahwa diam-diam kau
telah menjalin hubungan cinta dengan manusia lain di belakang punggungkuLidahku sempat
kelu karena hatiku mati rasa selama beberapa waktu. Leburan rasa kecewa, benci,
marah, sedih pernah begitu pekat menyesaki dada. Aku pun membencimu beberapa
masa, sempat pula berusaha mengenyahkanmu dari dalam sana. Namun, semua usahaku
nampaknya sia-sia. Kau masih teguh menunggu, berusaha keras mempertahankan
hubungan berdua.Aku pun paham bahwa diam-diam kau ikut terluka dan berduka. Kau
menyesali tingkah bodohmu yang membuat jalinan kita terkoyak. Kau mengutuki
diri yang sempat dengan sengaja menggurat luka di dadaku. Namun kini, setelah
sekian waktu jengah digilas rasa yang ada, hatiku mulai bisa terbuka celahnya.Aku sadar,
manusia tak ada yang sempurna. Karena itulah, aku memilih untuk memaafkanmu.Gerbang
hati kuberi pintu ganda berteralis dengan gembok berlapis. Demi
berjaga-jaga supaya kau tak lagi menyelinap masuk. Aku tak mau ada lagi sakit
yang terhela. Luka ini masih basah dan menganga. Hatiku masih belum bisa
melunak. Walau hal itu dibarengi dengan kata-kata maafmu yang tak pernah alpa
kau kirimkan tiap hari. Entah yang terbawa angin kemudian masuk ke ponselku
dalam bentuk pesan singkat.Sungguh, aku berusaha memaafkanmu, namun aku masih
belum mampu. Aku ingin kau tahu bahwa pengkhiatan harus mendapatkan ganjaran.
Aku ingin kau tahu rasa sakitnya hati yang diiris dengan sembilu. Untuk itulah
aku bersikeras untuk menghukummu, dengan memilih untuk berdiam diri di dalam
cangkangku.Namun
kemudian aku menyadari, kamu juga porak poranda di dalam sana. Hatimu juga
terkoyak sama seperti punyaku. Bukan hanya aku yang terluka, kaupun tengah
berduka.Butuh waktu lama memang untukku mampu
meresapi dan membuka hati kembali. Aku kemudian baru memahami bahwa penyesalan
yang kau bawa sudah cukup menyiksa. Kau pun sama sepertiku, tengah
terpuruk dan tak berhenti meratap. Beban yang kau panggul tentu lebih berat dan
penyesalan yang kau rasakan sudah cukup menyesakkan. Aku kini paham, kau tengah
menghukum diri sendiri.Aku bukan dewa yang bisa bertitah, sama
sepertimu aku juga manusia. Dan tentunya aku tak berhak menghukum demi
membuatmu jera. Hal ini juga menyadarkanku bahwa tak ada manusia sempurna yang
tak memiliki cela. Aku harus menerima dan memaafkan kesalahan yang pernah
kau torehkan. Lagipula aku meyakini jika semua manusia berhak
mendapatkan kesempatan kedua. Penyesalan yang kau rasa sudah merupakan
penghukuman yang layak kau dapatkan.Oleh karena itulah aku melunakkan
hati, demi memaafkanmu dan memberi kesempatan satu kali lagi.Rasa yang ada di
dalam hati ini tak bisa berdusta. Ia masih menunjukkan getarannya tiap kali
wajahmu melintas di rongga kepala. Penyesalan dan usaha tanpa henti yang kau
tunjukkan berhasil membuka hatiku sedikit demi sedikit. Kembali menyuburkan
pendar cinta yang tersemai rapi di dalam sana.Hubungan kita memang layak
diperjuangkan, untuk itulah aku memilih untuk memaafkan. Aku tahu, kita sudah
berada di level hubungan yang lebih dewasa. Aku belajar banyak dari kesalahan
yang pernah ada. Pun masih ada sisa impian dan harapan yang menunggu untuk kita
tuntaskan. Tak kan kubiarkan kealpaan yang ada membuat kita berhenti berjuang.
Kini, maukah kau berjanji untuk memanfaatkan
kesempatan yang ada dan tak mengulangi kesalahan yang sama?
No comments:
Post a Comment